Letak Geografis

 
Kota Samarinda merupakan Ibu Kota Propinsi Kalimantan Timur yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Kartanegara. Kota Samarinda secara astronomis terletak pada posisi antara 116°15'36"-117°24'16" Bujur Timur dan 0°21'18" - 1°09'16" Lintang Selatan, dengan ketinggian 10.200 cm diatas permukaan laut dan suhu udara kota antara 22 - 32° C dengan curah hujan mencapai 2.345 mm pertahun dengan kelembaban udara rata-rata 81,4 %.
 

Administrasi

 
Adanya Sungai Mahakam yang membelah di tengah kota menjadikan kota ini bagai gerbang menuju pedalaman Kalimantan Timur. Luas Wilayah Kota Samarinda adalah 71.800 Ha yang terbagi menjadi 6 ( enam )Kecamatan yaitu : Kecamatan Samarinda Ulu, Kecamatan Samarinda Ilir, Kecamatan Samarinda Seberang Kecamatan Palaran, dan Kecamatan Sungai Kunjang.
 

Batas Adminsitrasi Kota Samarinda

 
  • Sebelah Utara: Kec. Muara Badak Kabupaten Kukar
  • Sebelah Timur: Kecamatan Anggana dan Sanga-Sanga (Kab Kukar)
  • Sebelah Selatan: Kec Loa Janan .Kab Kutai Kartenegara
  • Sebelah Barat: Kec. Muara Badak Tenggarong Seberang (Kab Kukar)

 

Ketinggian / Topografi

 
Berdasarkan topografinya , maka wilayah Kota Samarinda berada di ketinggian antara 0 - 200 dpl, dan hampir 24,17 % berada di ketinggian 0 - 7 dpl, umumnya terletak di dekat Sungai Mahakam sekitar 41,10 % berada dalam ketinggian 7 - 25 dpl, dan 32,48 % berada di ketinggian 25 - 100 dpl.
 
Topografi Kota Samarinda
 
No. Kemiringan (%) Luas (Km2) Persentase (%)
1 0 - 2 219,61 30,61
2 3 - 14 198,58 27,68
3 15 -40 194,06 27,05
4 > 40 105,17 14,68
 

Fisiografi

 
Fisiografi menunjukkan bentuk permukaan bumi dipandang dari faktor dan proses pembentukannya. Proses pembentukan permukaan bumi dipandang sebagai penciri suatu satuan fisiografi.
 
 
Pembagian bentuk permukaan bumi berdasarkan tipe fisiografinya dimaksudkan untuk memberikan gambaran dan memudahkan dalam perencanaan penggunaan tanah sehubungan dengan perencanaan pengembangan daerah.
 
Ditinjau dari fisiografinya, wilayah Kota Samarinda dapat dikelompokkan dalam 7 (tujuh) deskripsi masing-masing satuan fisiografi tersebut adalah sebagai berikut :
 
  • Daerah Patahan (derah dumana terjadi patahan ) yaknio patahan menurun dan kasar, dengan permukaan yg besar dengan kemiringan tanah sangat bervariasi
  • Daerah rawa pasang surut (tidal swamp) yaitu daerah dataran rendah ditepi pantai yang selalu dipengaruhi pasang surut air laut dan ditumbuhi hutan mangrove dan nipah, bentuk wilayah datar dengan variasi lereng kurang dari 2% dan perbedaan tinggi kurang dari 2 meter.
  • Daerah dataran alluvial (alluvial plain) yaitu daerah dataran yang terbentuk dengan proses pengendapan, baik didaerah muara maupun daerah pedalaman.
  • Daerah berombak/bergelombang yakni daerah dengan konfigurasi medan berat ditandai dengan penyebaran daerah perbukitan 8,15%
  • Daerah dataran (plain) yaitu daerah endapan, dataran karst, dataran vulkanik, dataran batuan beku (metamorf) masam, dataran basalt dengan bentuk wilayah bergelombang sampai berbukit, variasi lereng 2 sampai 15,94 % dengan beda ketinggian kurang dari 50 meter.
  • Daerah berbukit (hill) yaitu daerah bukit endapan dan ultra basa, sistem punggung sedimen, metamorf dan kerucut vulkanik yang terpotong dengan pola drainase radial. Bentuk wilayah bergelombang sampai agak bergunung, variasi lereng 16 sampai 60 %, dan beda ketinggian antara 50 sampai 150 meter.
  • Daerah Sungai (River). Daerah ini berfungsi sebagai daerah reterdam, daerah pengendali atau waterponds.
Penyebaran dan luas masing-masing satuan fisiografi di wilayah Kota Samarinda disajikan pada tabel berikut ini:
 
Luas Satuan Fisiografi di Wilayah Kota Samarinda
 
No Satuan Fisiologi Luas (Ha) Persentase (%)
1 Lembah Aluvial 6.479 9,02
2 Daerah Daratan 10.524 15,94
3 Daratan Berombak 5.379 8,15
4 Daratan Bergelombang 9.636 14,59
5 Daerah Patahan 1.527 2,31
6 Daerah Berbukit 29.526 44,73
7 Lain-lain 8.729 4,47
  Jumlah 71.800 100
 

Geologi

 
Struktur geologi di wilayah Kota Samarinda diketahui berdasarkan hasil survey dan atau pemetaan geologi yang dimuat dalam buku "Geology of Indonesia, Volume IA". Oleh R.W. Van Bemmelen, 1949, pada umumnya berumur Praktertier hingga Kwarter.
 
Beberapa formasi geologi yang terdapat diwilayah Kota Samarinda diantaranya adalah
 
  • Kampung Baru Beds
  • Balikpapan Beds
  • Pulau Balang Beds
  • Pemaluan Beds
Beberapa Wilayah geologi telah mengalami perubahan yang ditandai dengan adanya patahan. Formasi ini terdiri dari Grewake, batu pasir kwarsa, batu gamping, batu lempeng dan tufa dasitik dengan sisipan batu bara.
 
Luas masing-masing Formasi Geologi di Wilayah Kota Samarinda.
 
No Formasi Luas (Ha) Persentase (%)
1 Kampung Baru Beds 11.314 11,34
2 Balikpapan Beds 33.953 53,29
3 Pulau Balang Beds 16.977 26,65
4 Pemaluan Beds 9.556 8,72
  Jumlah 71.800 100
 

Hidrologi

 
Berdasarkan kondisi hidrologinya Kota Samarinda dipengaruhi oleh sekitar 20 daerah aliran sungai ( DAS) . Sungai Mahakam adalah sungai utama yang menmbelah Kota Samarinda dengan lebar antara 300-500 meter, sungai-sungai lainnya adalah anak2 sungai yang bermuara di sunagai Mahakam yang meliputi:
 
  • Sungai Karang Mumus dengan luas DAS sekitar 218,60Km
  • Sungai Palaran dengan luas DAS 67,68 Km
  • Anak sungai lainnya antara lin , Sungai Loa Bakung, Lao Bahu, Bayur, Betepung, Muang, Pampang, Kerbau, Sambutan, Lais, Tas, Anggana, Loa Janan, Handil Bhakti, Loa Hui, Rapak Dalam, Mangkupalas, Bukuan, Ginggang, Pulung, Payau, Balik Buaya, Banyiur, Sakatiga, dan Sungai Bantuas.

Jenis Tanah

 
Sesuai dengan kondisi iklim di Kota Samarinda yang tergolong dalam tipe iklim tropika humida, maka jenis-jenis tanah yang terdapat di daerah inipun tergolong ke dalam tanah yang bereaksi masam.
 
Jenis-jenis tanah yang terdapat di Kota Samarinda, menurut Soil Taxanomy USDA tergolong kedalam jenis tanah: Ultisol, Entisol, Histosol, Inceptiols dan Mollisol atau bila menurut Lembaga Penelitian Tanah Bogor terdiri dari jenis tanah: Podsolik, Alluvial, Organosol.
 
Ciri dan sifat tanah-tanah Podsolik (Ultisol) biasanya ditandai dengan:
 
  • Pencucian yang intensif terhadap basa-basa, sehingga tanah bereaksi masam dan dengan kejenuhan basa yang rendah.
  • Karena suhu yang cukup tinggi dan pencucian yang berlangsung terus menerus mengakibatkan pelapukan terhadap mineral liat sekunder dan oksida-oksidanya.
  • Terjadi pencucian liat di lapisan atas (eluviasi) dan penimbunan liat di lapisan bawahnya (illuviasi).
  • Tanah Podsolik (Ultisol) merupakan jenis tanah yang arealnya terluas di Kota Samarinda dan masih tersedia untuk dikembangkan sebagai daerah pertanian. Persediaan air di daerah ini umumnya cukup tersedia dari curah hujan yang tinggi. Penggunaan tanah dari jenis tanah ini sebagai daerah pertanian, biasanya memungkinkan produksi yang baik pada beberapa tahun pertama selama unsur-unsur hara dipermukaan belum habis melalui proses biocycle.
 
Pada dasarnya jenis-jenis tanah di Kota Samarinda (menurut Lembaga Penelitian Tanah Bogor dan Padanannya menurut Soil Taxanomy) terdiri dari:
 
  • Podsolik (Ultisol)
  • Alluvial (Entisol)
  • Gleisol (Entisol)
  • Organosol (Histosol)
  • Lithosol (Entisol)
Luas jenis tanah dan penyebarannya di Kota Samarinda dapat disajikan pada tabel berikut ini:
 
Luas masing-masing Jenis Tanah di Wilayah Kota Samarinda.
 
No Jenis Tanah Luas (Ha) Persentase (%)
1 Alluvial 3.453 4,81
2 Alluvial/Gambut 16.294 24,68
3 Podsolik/Litosol 8.266 12,52
4 Podsolik 30.010 45,45
5 Lain-Lain 13.777 12,12
  Jumlah 71.800 100
 
Dari tabel diatas ternyata bahwa jenis tanah Podsolik mempunyai luasan yang tertinggi di wilayah Kota Samarinda dengan 30.010Ha atau 45,45%, sedangkan jenis tanah Alluvial tidak bergambut mencapai luas 3.453Ha atau 4,81% dari luas Kota Samarinda.
 

Penggunaan Tanah

 
Pola penggunaan tanah di Kota Samarinda mengikuti pola penyebaran penduduk yang ada. Akumulasi penduduk sebagai besar terdapat pada lokasi-lokasi yang dikembangkan oleh Pemerintah seperti: Pusat Perdagangan, Pusat Industri dan lokasi Transmigrasi dimana daerah-daerah tersebut sudah mempunyai transportasi yang memadai.
 
Penggunaan Tanah di Kota Samarinda yang paling luas adalah Perkarangan/Bangunan dan halaman sekitarnya sebesar 28.666Ha atau 39,92% dari luas Kota Samarinda, diikuti Lahan kering sementara tidak diusahan sebesar 12.909% atau 17,98%. Sedangkan paling sempit wilayahnya dibanding presentasi luas adalah rawa-rawa/kolam seluas 362Ha atau 0,50%
 
Untuk mengetahui penggunaan lahan lebih jelasnya pada tabel berikut:
 
Penggunaan Tanah Kota Samarinda
 
No Penggunaan Tanah Luas Wilayah (Ha) Persentase (%)
1 Perkarangan Bangunan dan Halaman 26.666 39,92
2 Tegal/Kebun/Ladang 8.877 12,36
3 Sawah 1.043 14,53
4 Rawa/Kolam 362 0,50
5 Lahan Kering 12.909 17,98
6 Hutan Rakyat 2.683 3,74
7 Hutan Berat 0 0
8 Perkebunan Rakyat 4.486 6,25
9 Lain-Lain 3.387 4,72
  Jumlah 71.800 100